Monday, December 13, 2010

Hukum itu buat siapa?

Pagi ini seperti biasa saya pergi kekantor menggunakan motor.dengan kecepatan 50km/jam rasanya masih bisa menikmati pemandangan sekitar.mba-mba kantoran dengan sepatu haknya berlari-lari kecil dengan terburu-buru karena mesin amano dikantornya sudah berganti tinta. beberapa anak sekolah yang entah bolos atau tidak terangkut angkot masih saja bergerombol di halte atau ibu-ibu dengan aneka belanjaan ditangannya pulang dari pasar. tapi mata ini terasa sakit, ga enak untuk melihat ketika mata ini tertuju pada seorang bapak berbaju loreng dan sebilah pisau menggantung dipinggangnya yang dengan santainya mengendarai motor tanpa helm. polisi pun seolah menutup mata pura-pura tidak lihat,buta atau takut?entahlah.coba bila keadaan ini dibalik, entah anda atau saya yang tanpa helm.hemmm sudah pasti makanan empuk bukan?
tadi pagi seorang kawan mengalaminya,baru keluar kantor 10m kemudian hujan,dia pun ber inisiatif segera balik kanan dan apesnya langsung bertemu muka dengan seorang oknum aparat.

"kan dia emang salah kang"

oke dia memang salah,tilang saja tapi apa yang ditawarkan sang oknum ini?

"tilang merah tanggal 14, tilang biru satu juta, dibantu 100ribu"

lihat?si oknum ini menggiring korbannya ke arah "dibantu". dengan asumsi tilang merah akan membuat repot karena mewajibkan sang pelanggar datang kepersidangan sedangkan tilang biru yang tidak merepotkan karena hanya perlu ke atm sebentar dibuat setinggi langit.

belum lagi peraturan-peraturan lalu lintas yang dilanggar sendiri oleh para oknum penegak hukum dijalan. alih-alih memberi contoh baik malah terlihat bodohnya.

No comments:

Post a Comment