Tuesday, April 22, 2014

mengasah pikiran dan hati

“Rugilah orang yang sibuk memperbaiki penampilan fisik namun lupa mengasah pikiran dan hati. Penampilan fisik bisa menipu, terlihat keren padahal kere. Terlihat bahagia tetapi hatinya hampa. Terlihat kaya padahal hutang dimana-mana. Priotitaskanlah memperbaiki kecerdasan pikiran dan kelembutan serta kejernihan hati Anda agar predikat zombie menjauh dari kehidupan Anda.” - Jamil Azzaini

Monday, April 21, 2014

Lelaki Terbaik

Tulisan ini saya dapat ketika menjelajah di sini, saya reblog sebagai catatan pribadi saya semoga kelak saya bisa menjadi lelaki terbaik bagimu dan anak-anak kita


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _




Dua hari lalu, saya menghadiri dua acara akad nikah di Tangerang dan Jakarta. Semua pemberi nasehat perkawinan mengutip hadits Nabi, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.”

Makna tersirat dari hadits nabi itu adalah tidak mungkin seseorang menjadi lelaki yang baik apabila ia tidak baik dengan keluarganya. Kebaikan kepada keluarganya itu kebaikan yang asli, tanpa pamrih. Watak asli seorang lelaki bisa dilihat dari bagaimana ia memperlakukan istri dan anaknya.

Bagaimana memperlakukan istri dan anak dengan baik dan terhormat? Menurut saya setidaknya ada tiga hal yang bisa kita lakukan. Pertama, mengajak istri dan anak untuk selalu mendekat kepada Allah. Dalam bahasa para ulama terdahulu, “Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.”

Semua hal harus dimulai dengan pertanyaan, “Bila ini saya lakukan, Allah cinta gak ya?” Setelah kegiatan berjalan, kitapun harus tetap bertanya, “Bagaimana caranya agar tangan Allah selalu ikut dalam dalam aktivitas ini?” Lalu, pertanyaan terakhir, “Bagaimana caranya agar kegiatan ini bisa menjadi bekal untuk kehidupan nanti?” Seorang lelaki yang cerdas akan selalu mengajak istri dan anaknya “membawa” Sang Maha dimanapun dan kapanpun.

Kedua, sebagai lelaki kita harus bermental “to give” bukan “to get”. Apa artinya? Kita harus selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada istri dan anak. Bukan justru selalu bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari mereka?” Seorang lelaki terhormat juga sangat tidak pantas mengungkit-ungkit kebaikan dan pemberian kepada istri dan buah hatinya.

Ia juga perlu sering merenung, “Apakah saya sudah menyediakan waktu terbaik untuk mereka? Apakah saya sudah memberikan saran dan arahan yang terbaik untuk istri dan anak saya? Apakah yang saya lakukan ini benar-benar bisa menjadikan mereka SuksesMulia di kemudian hari?

Ketiga, lelaki itu menjadi “pakaian” bagi keluarganya. Fungsi pakaian itu melindungi, menutupi hal-hal yang memang harus ditutupi dan menjaga kehormatan sang pemakaianya. Seorang laki-laki harus menyediakan waktu untuk istri dan anaknya saat mereka ingin curhat, saat ada sesuatu yang membuat mereka gelisah dan perlu perlindungan.

Seorang lelaki juga akan menjaga kehormatan dan harga diri anggota keluarganya. Dia tak akan mengumbar cerita kelemahan dan keburukan istri dan anaknya. Ia akan sibuk mensupport dan mendukung anggota keluarganya sembari memperbaiki kelemahan-kelemahannya. Ia memahami bahwa semua hal adalah proses, perlu waktu dan perlu kesabaran membina istri dan anaknya.

Mulailah menjadi lelaki baik dari rumah, sebab itu cerminan hakiki siapa sejatinya Anda…

Salam SuksesMulia!

Wednesday, April 16, 2014

Catatan Diri : Mengejar Dunia



Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang mencari dunia dengan cara yang halal untuk berbanyak-banyak (berkelebihan) dan berbangga-bangga (sombong) kelak akan bertemu Allah sementara Dia murka kepadanya. Dan siapa yang mencari dunia untuk memenuhi masalah kehidupannya, bekerja keras demi keluarganya, dan menaruh iba terhadap tetangganya, ia akan datang di hari kiamat dan wajahnya bak rembulan di malam purnama.”

Hadist tersebut diatas dibacakan kemarin ba'da Ashar dan yang bikin merinding adalah saat kita mencari dunia dengan halal pun Allah masih bisa murka bila niat dan tujuannya salah apalagi yang jelas-jelas tidak halal dan tujuannya untuk berlebihan dan sombong. murka kuadrat kayanya.

Yuk kita luruskan niat kita dalam mengejar dunia, menghindari sikap berlebihan dan menyingkirkan sombong dari hati kita.

Wednesday, April 9, 2014

Surat Untuk Tuhan

Tuhan…
Bolehkan aku mengintip sedikit, cukup wajahnya saja Tuhan, siapa yang jadi istriku kelak… Karena, jika telah kuketahui sosoknya sebelumnya.. Aku tak perlu khawatir akan keraguanku. Pun, jika dia masih jauh dari jangkauanku, dengan senang hati aku akan memperjuangkannya, meskipun harus bercucur keringat darah karenanya.


Tuhan…
Tahukah Engkau Tuhan… Karena Engkau begitu pelit dengan segala rahasia-Mu, telah banyak hati yang terzalimi. Bahkan mungkin, nyaris melakukan tindakan yang jauh dari ampunan-Mu, yaitu merebut minuman yang harusnya menjadi hak serangga. Tak kasihan kah kau pada serangga itu


Tuhan…
Ah! Maaf Tuhan… Jadi OOT. Jangan di-bata ya Tuhan.. :D


Tuhan..
Jika memang Engkau kekeuh tak berkenan memberi bocoran, pun tak mempan suap, it’s ok Tuhan.
Aku pasrahkan semuanya dalam kehendak-Mu…
Jika kau memaksa menjodohkanku dengan Sandra Dewi, aku pun tak punya pilihan lain untuk menolak Tuhan…
Tapi, kurasa kasihan nanti.. Dunia akan gempar! Para ilmuwan akan panik! Mengetahui fenomena alam ini. Karena dalam era modern seperti sekarang, mu’jizat sudah dianggap hal yang absurd!
Untuk itu, tak perlulah Engkau memaksakan jodohku seorang wanita sempurna fisiknya Tuhan. Cukuplah, seorang yang membuatku nyaman ketika bersamanya.


Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

Tak perlulah dari keluarga ningrat. Cukuplah, jika ia dan keluarganya ikhlas menerimaku dan keluargaku menjadi bagian keluarga mereka, sama seperti keikhlasanku dan keluargaku menerima mereka menjadi keluarga kami yang baru.


“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS.Al-Hujurat(49):13).

Tak perlu memiliki harta melimpah, tapi cukuplah ia gemar bersedekah.


…dan persetubuhan salah seorang dari kalian (dengan isterinya) adalah shadaqah.” [alhadits]


Tak perlu berbudi pekerti luhur, tapi semoga ia bukan wanita keras kepala, tipis nuraninya, dan buta mata hatinya.
Tak perlu memiliki kecerdasan dan tingkat intelejensia di atas rata-rata, tapi cukuplah jika ia sadar dengan kerelaan menyerahkan diri sepenuhnya dalam tanggung jawabku.
Tak perlu harus selalu memahamiku, tapi cukuplah ia jika tak memberatkanku.
Tak perlu harus selalu melayaniku, tapi cukuplah jika ia ikhlas dalam keterpurukanku.
Tak perlu harus pintar masak, tapi cukuplah jika ia sadar dan mengerti bahwa dalam makanan ada keberuntungan, dan keberuntungan itu ‘mahal’. Yang harganya tak bisa terbeli dengan ke’mubazir’an.
Tak perlu harus pintar mengurus rumah, tapi cukuplah jika ia bisa menjaga kehormatan ‘rumah’. Orang jawa bilang: Mikul dhuwur, mendhem jero.
Tak perlu harus pintar dalam mendidik anak, tapi cukuplah jika ia tahu dan sadar, bahwa waktu kebersamaan tak bisa digantikan uang jajan. Dan, kasih sayang tak bisa digantikan maaf dan penyesalan.


Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).

Tak perlu seorang alim, tapi cukuplah jika ia bersedia mengingatkanku dan mau kuingatkan jika masing-masing dari kami berada dalam kekhilafan.


Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).

Ah! Requestku kebanyakan ya Tuhan…
Maaf ya Tuhan..
Tapi, bagaimanapun ia, jika ia pilihan-Mu, aku yakin itu terbaik untukku…


Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan rizki yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).

Last but Not Least Tuhan…
Ada ulama yang mengatakan, “Jodoh itu di Tangan Tuhan, tapi kalau ga diambil ya di Tangan Tuhan terus!”
Apa itu benar Tuhan?
Ah! Rahasia lagi…
No Prob Tuhan..
Karena aku tahu, dibalik semua rahasia-Mu, terdapat kebaikan yang memaksa setiap orang untuk terus meningkatkan ikhtiar dan tawakkalnya.


“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49)

Akhirul kalam..
Terima kasih Tuhan telah mendengarkan rajukanku, hamba-Mu yang manja ini..


Ttd


RAHASIA‼!
(Emangnya Tuhan doang yang bisa maen rahasia2an! :p)


“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32).






Tuesday, March 25, 2014

Cinta...

Cinta bisa datang
Cinta bisa memilih
Cinta bisa pergi
Tapi ada satu yang ga bisa cinta lakuin...
Cinta ga bisa nunggu!
-dari Doni untuk Olip, Jomblo-

Wednesday, March 19, 2014

Apakah bisa mencintai dengan ikhlas?

Apakah kita bisa mencintai tanpa mengharap dicintai?
Apakah kita bisa mengirim kabar tanpa mengharap balasan?
Apakah kita bisa menelepon tanpa mengharap ditelepon kembali?
Apakah kita bisa bertanya tanpa mengharap jawaban?
Apakah kita bisa??